(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)
Khutbah Pertama:
اِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَه وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،
أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah SWT yang memerintahkan kita untuk mengikuti kitab-Nya. Marilah kita senantiasa memuji dan mensyukuri nikmat-Nya serta memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada yang diibadahi dengan benar selain Allah SWT semata, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri teladan kita, sayyidul awwalin wal akhirin, nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan kaum muslimin yang senantiasa mengikuti jalannya.
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT, berpegang teguh dengan agama-Nya, dan tidak berpecah belah dalam beragama dengan membuat aturan-aturan baru dalam beribadah kepada-Nya.
Begitu pula, marilah kita bersungguh-sungguh dalam menanamkan kecintaan kita kepada Allah SWT pada diri kita dengan cinta yang sebenarnya, karena cinta kepada Allah SWT adalah prinsip dari agama dan fondasi dari ibadah kita serta tanda dari keimanan yang benar kepada-Nya. Allah SWT berfirman :
“Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)
Jamaah jumah rahimakumullah,
Cinta kepada Allah SWT memiliki tanda-tanda. Di antaranya adalah mengikuti dan taat kepada utusan-Nya. Allah SWT berfirman :
“Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Ali ‘Imran: 31)
Begitu pula, termasuk tanda cinta kepada Allah l adalah bersikap lembut terhadap orang-orang yang beriman dan mencintai apa-apa yang dicintai Allah SWT. Allah SWT mencintai amal saleh, ketaatan, orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang berbuat ihsan, bersuci, dan yang semisalnya.
Begitu pula sebaliknya, di antara tanda cinta kepada Allah SWT adalah membenci orang-orang yang dimurkai oleh Allah l dari kalangan orang kafir dan membenci hal-hal yang dibenci Allah SWT berupa amalan kemaksiatan dan kekufuran. Allah SWT berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang
murtad dari agamanya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah
lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut
kepada celaan orang yang suka mencela.” (al-Maidah: 54)
Jamaah jumah rahimakumullah,
Di antara tanda cinta kepada Allah l adalah mendahulukan cintanya kepada Allah SWT dari apa yang dicintai oleh dirinya, ketika sesuatu yang dicintainya itu menghalangi cintanya kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya :
Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri,
dan keluarga kalian; harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan
yang kalian khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kalian
sukai, lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari
berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
fasik.” (at-Taubah: 24)
Jadi, di dalam ayat ini, Allah l mengancam orang-orang yang lebih mendahulukan delapan perkara yang dicintai oleh dirinya daripada kecintaannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, saat perkara tersebut akan menghalangi cintanya kepada Allah l. Maka dari itu, setelah cintanya kepada Allah SWT seseorang wajib pula mencintai kepada Rasul-Nya. Caranya adalah dengan mendahulukan cintanya kepada Rasulullah SAW daripada cintanya terhadap diri, harta, orang tuanya, dan seluruh manusia lainnya.
Hadirin rahimakumullah,
Selanjutnya, termasuk tanda cinta kepada Rasulullah SAW adalah meninggalkan apa yang beliau larang, yaitu mengada-adakan ibadah yang tidak pernah disyariatkan atau yang diistilahkan dengan bid’ah serta meninggalkan apa saja yang merupakan bentuk penyelisihan terhadap ajaran yang dibawa oleh beliau. Allah SWT berfirman :
“Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (yaitu Rasulullah)
takut akan ditimpa musibah atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)
Rasulullah n juga bersabda,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ اْلأُمُوْر، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Hati-hatilah kalian dari mengada-adakan hal-hal yang baru dalam agama,
karena hal-hal yang baru tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah
kesesatan.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Dengan demikian, jelaslah bahwa cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya bukanlah sekadar pengakuan atau membuat acara-acara seremonial yang tidak pernah disyariatkan. Namun dibuktikan dengan kesungguh-sungguhan dalam menjalankan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan membelanya serta mengajak orang lain untuk mengikutinya, bukan justru membuat amalan ibadah yang diada-adakan dan tidak disyariatkan. Akhirnya, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa menunjuki kita pada jalan yang diridhai-Nya.
Khutbah Kedua:
الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي وَعَدَ المُطِعِيْنَ لَهُ وَلِرَسُوْلِهِ أَجْرًا عَظِيْمًا وَأَعَدَّ لِلْمُعْرِضِيْنَ عَنْهُ وَعَنْ رَسُوْلِهِ عَذَابًا أَلِيْمًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَتَمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْهِ وَهَدَاهُ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا،
أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ، وَاعْلَمُوْا فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ n وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Setelah kita mengetahui bahwa tanda cinta kepada Rasulullah n bukanlah dengan mengada-adakan amalan ibadah yang tidak disyariatkan, maka bukti cinta seseorang kepada Rasulullah SAW pun tidak diwujudkan dengan merayakan hari kelahiran beliau SAW. Karena perayaan tersebut adalah amalan ibadah yang diada-adakan dalam agama Islam. Namun, tidak berarti kita tidak mensyukuri kelahiran atau diutusnya beliau SAW. Bahkan, diutusnya beliau SAW adalah nikmat Allah SWT yang paling besar bagi penduduk bumi ini. Hal ini juga menunjukkan dikabulkannya doa Nabi Ibrahim As :
“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, mengajarkan kepada
mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta menyucikan
mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana.”
(al-Baqarah: 129)
Diutusnya beliau n juga merupakan kabar gembira yang disampaikan oleh Nabiyullah ‘Isa As, sebagaimana dalam firman Allah SWT :
Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata, “Wahai Bani Israil,
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab
sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya)
seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad
(Muhammad).” (ash-Shaf: 6)
Hadirin rahimakumullah,
Namun, sekali lagi, mensyukuri nikmat yang besar ini dan mencintai Rasul yang paling mulia ini n tidaklah dengan merayakan hari kelahirannya sedangkan ajarannya justru tidak dipelajari dan diamalkan. Selain itu, bukanlah yang dimaksud semata-mata hari kelahirannya. Yang disebut dan dinyatakan sebagai nikmat oleh Allah SWT adalah diutusnya beliau kepada penduduk bumi ini, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :
“Sungguh Allah telah memberi nikmat kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran: 164)
Oleh karena itu, merayakan hari kelahirannya adalah perbuatan bid’ah karena hal itu adalah perkara baru yang diada-adakan dalam agama, tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang mulia, seperti Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan yang lainnya. Begitu pula, tidak pernah dirayakan oleh generasi terbaik berikutnya dari kalangan tabi’in serta imam yang empat: Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, dan para imam Ahlus Sunnah berikutnya rahimahumullah.
Kalaulah perayaan ini adalah ibadah, tentu telah dijelaskan oleh Nabi SAW dan tentu pula telah dilakukan oleh para sahabat karena mereka adalah orang-orang yang paling mencintai Nabi SAW dan memuliakannya. Namun, sebagaimana tersebut dalam sejarah, perayaan ini dimunculkan pada abad keenam dalam rangka meniru kaum Nasrani yang mengada-adakan amalan baru dalam agama mereka, yaitu merayakan kelahiran Nabi ‘Isa As.
Jadi, tentu saja ini adalah amalan yang batil dan bentuk berlebih-lebihan terhadap Nabiyullah ‘Isa As. Nabi kita Muhammad n melarang umatnya untuk berlebih-lebihan terhadap beliau n karena meniru orang-orang Nasrani yang berlebih-lebihan terhadap Nabi ‘Isa As.
Lebih-lebih lagi, dalam perayaan maulid ini terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Bahkan, pada acara tersebut dikumandangkan syair-syair yang berbau syirik atau bid’ah, seperti shalawat Nariyah, shalawat Badr, dan semisalnya. Dengan demikian, semakin bertambah jeleklah apa yang mereka lakukan.
Yang juga tidak kalah aneh, orang-orang yang mengikuti acara ini kebanyakannya justru jauh dari menjalankan sunnah Rasul SAW. Padahal bentuk syukur yang semestinya adalah mengikuti dan membela sunnah beliau, karena sebaik-sebaik kebaikan adalah mengikuti petunjuk beliau SAW dan sejelek-jelek perbuatan adalah mengada-adakan ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh beliau SAW.
Hadirin rahimakumullah,
Akhirnya, kita memohon kepada Allah SWT untuk menjadikan kita dan kaum muslimin sebagai orang-orang yang diberi kemudahan untuk mengikuti jalan dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Catatan Kaki:
Kami tidak mencantumkan doa pada rubrik “Khutbah Jumat” agar khatib
yang ingin membaca doa memilih doa yang sesuai dengan keadaan
masing-masing.






0 komentar:
Posting Komentar